Nama : Putri
Kharisma
Nim : 1730403063
Kelas : 17 PUS B
Matkul : Pengantar Ilmu Perpustakaan
Nim : 1730403063
Kelas : 17 PUS B
Matkul : Pengantar Ilmu Perpustakaan
Sejarah
perpustakaan dunia
Bibliotheca
Alexandrina Egypt (Perpustakaan Iskandariah Mesir) merupakan perpustakaan
pertama dan terbesar di dunia. Perpustakaan ini bahkan bertahan selama
berabadabad dan memiliki koleksi 700.000 gulungan papyrus, bahkan jika di
bandingkan dengan Perpustakaan Sorbonne di abad ke-14 ‘hanya’ memiliki koleksi
1700 buku.
Perpustakaan
ini di dirikan oleh Ptolemi I sang penerus Alexander(Iskandariah) pada tahun
323 SM, dan terus berlanjut sampai kekuasaan Ptolemi III. Pada waktu itu para
penguasa mesir begitu besemangat memajukan Perpustakaan dan Ilmu Pengetahuan
mereka, bahkan dalam Manuskrip Roma mengatakan bahwa sang Raja mesir
membelanjakan harta kerajaan untuk membeli buku dari seluruh pelosok negeri
hingga terkumpul 442.800 buku dan 90.000 lainnya berbentuk ringkasan tak
berjilid. Ia juga memerintahkan prajurit untuk menggeledah setiap kapal yang
masuk guna memperoleh naskah. Jika ada naskah yang ditemukan, mereka menyimpan
yang asli dan mengembalikan salinannya. Menurut beberapa sumber, ketika Athena
meminjamkan naskah-naskah drama klasik Yunani asli yang tak ternilai kepada
Ptolemeus III, ia berjanji membayar uang jaminan dan menyalinnya. Tetapi sang
raja malah menyimpan yang asli, tidak mengambil kembali uang jaminan itu, dan
memulangkan salinannya.
Namun cerita
keemasan ini hanya menjadi sejarah. Ialah ketuka penaklukan bangsa Romawi yang
di pimpin oleh Julius Caesar pada tahun 48 SM. Bangsa Romawi membakar 400.000
buku musnah menjadi abu using yang tak berguna. Dunia ilmu saat itu sangat
berduka karena telah kehilangan salah satu sumber ilmu pengetahuan terbaik saat
itu. Namun akhirnya sang Kaisar, Julius Caesar meminta -maaf, dan sebagai
gantinya ia mengirim Marx Antonio untuk menghadiahkan 200.000 buku dari Roma
kepada Ratu mesir saat itu, Cleopatra, dan dari inilah kisah mereka berlanjut.
Namun
perpustakaan megah yang ada di mesir tersebut tak pernah kembali seperti masa –
masa keemasanya. Sejak pembakaran tersebut, Perpustakaan Iskadariah solah tak
terurus. Bahkan hampir menjadi artefak –artefak kuno saja. Akan tetapi, UNESCO
memprakarsai untuk bekerja sama dengan pemerintah Mesir,membangun kembali
perpustakaan dengan sejarah terbesar dalam sejarah tersebut. Dan pembangunan
ini di mulai sejak tahun 1990-an. Pembangunan ini menghabiskan dana tak kurang
dari US$ 220 juta. US 120 juta di tanggung pemerintah Mesir dan sisanya di tanggung
dari bantuan Internasional dari Negara-negara lain. Akhirnya setelah
terbengkalai hampir selama 20 Abad, Perpustakaan Iskandriah(Bibliotheca
Alexandrina) berdiri megah dan unik. Bangunan utama berbentuk bulat beratap
miring, terbenam dalam tanah. Di bagian depan sejajar atap, dibuat kolam untuk
menetralkan suhu pustaka, terdiri lima lantai di dalam tanah, perpustakaan ini
dapat memuat sekitar 8 juta buku. Namun yang ada saat ini baru 250.000 buku dan
akan terus bertambah tiap tahun.Selain itu juga menyediakan berbagai fasilitas,
seperti 500 unit komputer berbahasa Arab dan Inggris untuk memudahkan
pengunjung mencari katalog buku, ruang baca berkapasitas 1.700 orang,
conference room, ruang pustaka Braille Taha Husein khusus tuna netra, pustaka
anak-anak, museum manuskrip kuno, lima lembaga riset, dan kamar-kamar riset
yang bisa dipakai gratis.
Dan yang juga
menarik,adalah lantai tengah perpustakaan tersebut terdapat Gallery Design dan
bisa dilihat dari berbagai sisi. Di lantai kayu yang cukup luas itu terpajang
berbagai prototype mesin cetak kuno dan berbagai lukisan dinding. Perpustakaan
ini selalu dipenuhi pengunjung, padahal di Alexandria tidak banyak -
universitas seperti di Kairo. Ini menunjukkan tingginya minat baca masyarakat
Mesir dan perpustakaan yang dulu dihancurkan Julius Caesar itu kini menjadi
salah satu objek wisata sebagaimana Piramid Giza, Mumi, Karnax Temple, Kuburan
para Firaun di Luxor atau Museum Kairo yang menyimpan timbunan emas
Tutankhamun.
Isi
di perpustakaan tersebut mengandung:
A.
Sebuah
Perpustakaan yang dapat menampung jutaan buku.
B.
Sebuah
Arsip Internet
C.
Enam
khusus perpustakaan untuk;
a)
Seni,
multimedia dan bahan-bahan audio-visual,
b)
tunanetra,
c)
anak-anak,
d)
kaum
muda,
e)
microforms,
dan
f)
buku langka dan koleksi khusus
D.
Empat
Museum untuk;
a)
Antiquities,
b)
Naskah,
c)
Sadat
dan
d)
Sejarah
Sains
E.
Planetarium
A
F.
Sebuah
Exploratorium untuk eksposur anak terhadap ilmu (ALEXploratorium)
G.
Culturama:
panorama budaya lebih dari sembilan layar, yang pertama kalinya dipatenkan 9-
proyektor sistem interaktif. Pemenang banyak penghargaan, yang Culturama,
dikembangkan oleh CULTNAT, memungkinkan penyajian banyak lapisan data, dimana
presenter dapat klik pada item dan pergi ke tingkat baru detail. Ini adalah
presentasi multi-media sangat informatif dan menarik warisan di Mesir 5.000
tahun sejarah untuk zaman modern, dengan highlights dan contoh-contoh dan
Koptik Mesir Kuno / warisan Islam.
H.
VISTA
(The Virtual Immersive Sains dan Teknologi Aplikasi sistem) adalah sebuah
lingkungan Virtual Reality interaktif, yang memungkinkan peneliti untuk
mengubah data set ke dalam dua-dimensi simulasi 3-D, dan ke langkah di
dalamnya. Sebuah alat praktis visualisasi selama penelitian, VISTA membantu
peneliti untuk mensimulasikan perilaku sist tem
alam atau manusia-rekayasa, bukan hanya mengamati sistem atau membangun model
fisik.
I.
Delapan
pusat penelitian akademik:
a)
Alexandria
dan Pusat Penelitian Mediterania (Alex-Med),
b)
Arts
Center,
c)
Kaligrafi
Pusat,
d)
Pusat
Studi Khusus dan Program (CSSP),
e)
Sekolah Internasional Studi Informasi (ISIS),
f)
Naskah
Pusat,
g)
Pusat
Dokumentasi Budaya dan Warisan Alam (CultNat, terletak di Kairo), dan
h)
Alexandria
Pusat Studi Helenistik.
J.
Lima
belas pameran tetap meliputi;
a)
Tayangan
dari Aleksandria: Koleksi Awad,
b)
Dunia
Shadi Abdel Salam,
c)
Arabic
Kaligrafi,
d)
Sejarah
Percetakan,
e)
Arab-Muslim
Abad Pertengahan Instrumen Astronomi dan Sains (Penunggang Star), dan Pameran
Tetap Seleksi Seni Kontemporer Mesir
f)
Para
Artis Buku,
g)
Mohie
El Din Hussein: A Journey Kreatif,
h)
Abdel Salam Idul Fitri,
i)
The
Raaya El-Nimr dan Abdel-Ghani Abou El-Enein Koleksi Seni Rakyat Arab,
j)
Seif
dan lemah Adham: Motion dan Seni,
k)
Dipilih
Artworks dari Henin Adam,
l)
Dipilih Artworks Ahmed-Abdel Wahab,
m)
Artworks Terpilih Hamed Saeed,
n)
Dipilih Artworks dari Soliman Hassan, dan
o)
Sculpture.
K.
Empat
seni galeri untuk pameran temporer
L.
Sebuah
Pusat Konferensi untuk ribuan orang
M.
Sebuah
Forum Dialog yang memberikan kesempatan untuk pertemuan, dan diskusi dengan
para pemikir, penulis dan penulis untuk membahas berbagai isu penting yang
mempengaruhi masyarakat modern. Forum Reformasi Arab adalah hasil dari
Konferensi Reformasi Arab pertama diselenggarakan pada tahun 2004
Sejarah
perpustakaan indonesia
Sejarah
perpustakaan di Indonesia tergolong masih muda jika dibandingkan dengan negara
Eropa dan Arab. Jika kita mengambil pendapat bahwa sejarah perpustakaan ditandai
dengan dikenalnya tulisan, maka sejarah perpustakaan di Indonesia dapat dimulai
pada tahun 400-an yaitu saat lingga batu dengan tulisan Pallawa ditemukan dari
periode Kerajaan Kutai. Musafir Fa-Hsien dari tahun 414 Menyatakan bahwa di
kerajaan Ye-po-ti, yang sebenarnya kerajaan Tarumanegara banyak dijumpai kaum
Brahmana yang tentunya memerlukan buku atau manuskrip keagamaan yang mungkin
disimpan di kediaman pendeta.
Pada sekitar
tahun 695 M, menurut musafir I-tsing dari Cina, di Ibukota Kerajaan Sriwijaya
hidup lebih dari 1000 orang biksu dengan tugas keagamaan dan mempelajari agama
Budha melalui berbagai buku yang tentu saja disimpan di berbagai biasa.
Di pulau Jawa,
sejarah perpustakaan tersebut dimulai pada masa Kerajaan Mataram. Hal ini
karena di kerajaan ini mulai dikenal pujangga keraton yang menulis berbagai
karya sastra. Karya-karya tersebut seperti Sang Hyang Kamahayanikan yang memuat
uraian tentang agama Budha Mahayana. Menyusul kemudian Sembilan parwa sari
cerita Mahabharata dan satu kanda dari epos Ramayana. Juga muncul dua kitab
keagamaan yaitu Brahmandapurana dan Agastyaparwa. Kitab lain yang terkenal
adalah Arjuna Wiwaha yang digubah oleh Mpu Kanwa.
Dari uraian
tersebut nyata bahwa sudah ada naskah yang ditulis tangan dalam media daun
lontar yang diperuntukkan bagi pembaca kalangan sangat khusus yaitu kerajaan.
Jaman Kerajaan Kediri dikenal beberapa pujangga dengan karya sastranya. Mereka
itu adalah Mpu Sedah dan Mpu Panuluh yang bersama-sama menggubah kitab
Bharatayudha. Selain itu Mpu panuluh juga menggubah kitab Hariwangsa dan kitab
Gatotkacasrayya. Selain itu ada Mpu Monaguna dengan kitab Sumanasantaka dan Mpu
Triguna dengan kitam Kresnayana.
Semua kitab itu
ditulis diatas daun lontar dengan jumlah yang sangat terbatas dan tetap berada
dalam lingkungan keraton. Periode berikutnya adalah Kerajaan Singosari. Pada
periode ini tidak dihasilkan naskah terkenal. Kitab Pararaton yang terkenal itu
diduga ditulis setelah keruntuhan kerajaan Singosari. Pada jaman Majapahit
dihasilkan dihasilkan buku Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu - Prapanca.
Sedangkan Mpu Tantular menulis buku Sutasoma. Pada jaman ini dihasilkan pula
karya-karya lain seperti Kidung Harsawijaya, Kidung Ranggalawe, Sorandaka, dan
Sundayana.
Kegiatan
penulisan dan penyimpanan naskah masih terus dilanjutkan oleh para raja dan
sultan yang tersebar di Nusantara. Misalnya, jaman kerajaan Demak, Banten,
Mataram, Surakarta Pakualaman, Mangkunegoro, Cirebon, Demak, Banten, Melayu,
Jambi, Mempawah, Makassar, Maluku, dan Sumbawa. Dari Cerebon diketahui
dihasilkan puluhan buku yang ditulis sekitar abad ke-16 dan ke-17. Buku-buku
tersebut adalah Pustaka Rajya-rajya & Bumi Nusantara (25 jilid), Pustaka
Praratwan (10 jilid), Pustaka Nagarakretabhumi (12 jilid), Purwwaka
Samatabhuwana (17 jilid), Naskah hukum (2 jilid), Usadha (15 jilid), Naskah
Masasastra (42 jilid), Usana (24 jilid), Kidung (18 jilid), Pustaka prasasti
(35 jilid), Serat Nitrasamaya pantara ning raja-raja (18 jilid), Carita sang
Waliya (20 jilid), dan lainlain. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Cirebon
merupakan salah satu pusat perbukuan pada masanya. Seperti pada masamasa
sebelumnya buku-buku tersebut disimpan di istana.
Kedatangan bangsa Barat pada abad ke-16
membawa budaya tersendiri. Perpustakaan mulai didirikan mula-mula untuk tujuan
menunjang program penyebaran agama mereka. Berdasarkan sumber sekunder perpustakaan
paling awal berdiri pada masa ini adalah pada masa VOC (Vereenigde OostJurnal
Indische Compaqnie) yaitu perpustakaan gereja di Batavia (kini Jakarta) yang
dibangun sejak 1624. Namun karena beberapa kesulitan perpustakaan ini baru
diresmikan pada 27 April 1643 dengan penunjukan pustakawan bernama Ds.
(Dominus) Abraham Fierenius. Pada masa inilah perpustakaan tidak lagi -
diperuntukkan bagi keluarga kerajaan saja, namun mulai dinikmati oleh
masyarakat umum. Perpustakaan meminjamkan buku untuk perawat rumah sakit
Batavia, bahkan peminjaman buku diperluas sampai ke Semarang dan Juana (Jawa
Tengah). Jadi pada abad ke-17 Indonesia sudah mengenal perluasan jasa
perpustakaan (kini layanan seperti ini disebut dengan pinjam antar perpustakaan
atau interlibrary loan). Lebih dari seratus tahun kemudian berdiri perpustakaan
khusus di Batavia. Pada tanggal 25 April 1778 berdiri Bataviaasche Genootschap
van Kunsten en Wetenschappen (BGKW) di Batavia. Bersamaan dengan berdirinya
lembaga tersebut berdiri pula perpustakaan lembaga BGKW. Pendirian perpustakaan
lembaga BGKW tersebut diprakarsai oleh Mr. J.C.M.
Rademaker,
ketua Raad van Indie (Dewan Hindia Belanda). Ia memprakarsai pengumpulan buku
dan manuskrip untuk koleksi perpustakaannya. Perpustakaan ini kemudian mengeluarkan
katalog buku yang pertama di Indonesia yaitu pada tahun 1846 dengan judul
Bibliotecae Artiumcientiaerumquae Batavia Florest Catalogue Systematicus hasil
suntingan P. Bleeker. Edisi kedua terbit dalam bahasa Belanda pada tahun 1848.
Perpustakaan ini aktif dalam pertukaran bahan perpustakaan. Penerbitan yang
digunakan sebagai bahan pertukaran adalah Tijdschrift voor Indische Taal-,
Land- en Volkenkunde, Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschapn van
Kunsten en Wetenschappen, Jaarboek serta Werken buiten de Serie. Karena
prestasinya yang luar biasa dalam meningkatkan ilmu dan kebudayaan, maka
namanya ditambah menjadi Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en
Wetenschappen. Nama ini kemudian berubah menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia pada
tahun 1950.
Pada tahun 1962 Lembaga Kebudayaan Indonesia
diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia dan namanyapun diubah menjadi
Museum Pusat. Koleksi perpustakaannya menjadi bagian dari Museum Pusat dan
dikenal dengan - perpustakaan Museum Pusat. Nama Museum Pusat ini kemudian
berubah lagi menjadi Museum Nasional, sedangkan perpustakaannya dikenal dengan
Perpustakaan Museum Nasional.
Pada tahun 1980 Perpustakaan Museum Nasional
dilebur ke Pusat Pembinaan Perpustakaan. Perubahan terjadi lagi pada tahun 1989
ketika Pusat Pembinaan Perpustakaan dilebur sebagai bagian dari Perpustakaan
Nasional Republik Indonesia. Sesudah pembangunan BKGW, berdirilah perpustakaan
khusus lainnya seiring dengan berdirinya berbagai lembaga penelitian maupun
lembaga pemerintahan lainnya. Sebagai contoh pada tahun 1842 didirikan
Bibliotheek’s Lands Plantentuin te Buitenzorg. Pada tahun 1911 namanya berubah
menjadi Central Natuurwetenchap-pelijke Bibliotheek van het Departement van
Lanbouw, Nijverheid en Handel. Nama ini kemudian berubah lagi menjadi
Bibliotheca Bogoriensis. Tahun 1962 nama ini berubah lagi menjadi Pusat
Perpustakaan Penelitian Teknik Pertanian, kemudian menjadi Pusat Perpustakaan
Biologi dan Pertanian. Perpustakaan ini berubah nama kembali menjadi perpustakaan
ini bernama Perpustakaan Pusat Pertanian dan Komunikasi Penelitian. Kini
perpustakaan ini bernama Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Hasil-hasil
Penelitian. Setelah periode tanam paksa, pemerintah Hindia Belanda menjalankan
politik etis untuk membalas ”utang” kepada rakyat Indonesia. Salah satu
kegiatan politik etis adalah pembangunan sekolah rakyat.
Dalam bidang
perpustakaan sekolah, pemerintah Hindia Belanda mendirikan Volksbibliotheek
atau terjemahan dari perpustakaan rakyat, namun pengertiannya berbeda dengan
pengertian perpustakaan umum. Volksbibliotheek artinya perpustakaan yang
didirikan oleh Volkslectuur (kelak berubah menjadi Balai Pustaka), sedangkan
pengelolaannya diserahkan kepada Volkschool. Volkschool artinya sekolah rakyat
yang menerima tamatan sekolah rendah tingkat dua. -Perpustakaan ini melayani
murid dan guru serta menyediakan bahan bacaan bagi rakyat setempat. Murid tidak
dipungut bayaran, sedangkan masyarakat umum dipungut bayaran untuk setiap buku
yang dipinjamnya.
Kalau pada tahun 1911 pemerintah Hindia
Belanda mendirikan Hindia Belanda mendirikan Indonesische Volksblibliotheken,
maka pada tahun 1916 didirikan Nederlandsche Volksblibliotheken yang
digabungkan dalam Holland-Inlandsche School (H.I.S). H.I.S. merupakan sejenis
sekolah lanjutan dengan bahasa pengantar Bahasa Belanda. Tujuan Nederlandsche
Volksblibliotheken adalah untuk memenuhi keperluan bacaan para guru dan murid.
Di Batavia tercatat beberapa sekolah swasta, diantaranya sekolah milik Tiong
Hoa, Hwe Koan, yang memiliki perpustakaan. Sekolah tersebut menerima bantuan
buku dari Commercial Press (Shanghai) dan Chung Hua Book Co. (Shanghai).
Sebenarnya sebelum pemerintah Hindia Belanda
mendirikan perpustakaan sekolah, pihak swasta terlebih dahulu mendirikan
perpustakaan yang mirip dengan pengertian perpustakaan umum dewasa ini. Pada
tahun awal tahun 1910 berdiri Openbare leeszalen. Istilah ini mungkin dapat
diterjemahkan dengan istilah ruang baca umum. Openbare leeszalen ini didirikan
oleh antara lain Loge der Vrijmetselaren, Theosofische Vereeniging, dan
Maatschappij tot Nut van het Algemeen.
Perkembangan Perpustakaan Perguruan Tinggi di
Indonesia dimulai pada awal tahun 1920an yaitu mengikuti berdirinya sekolah
tinggi, misalnya seperti Geneeskunde Hoogeschool di Batavia (1927) dan kemudian
juga di Surabaya dengan STOVIA; Technische Hoogescholl di Bandung (1920),
Fakultait van Landbouwwentenschap (er Wijsgebeerte Bitenzorg, 1941),
Rechtshoogeschool di -Batavia (1924), dan Fakulteit van Letterkunde di Batavia
(1940). Setiap sekolah tinggi atau fakultas itu mempunyai perpustakaan yang
terpisah satu sama lain.
Pada jaman Hindia Belanda juga berkembang
sejenis perpustakaan komersial yang dikenal dengan nama Huurbibliotheek atau
perpustakaan sewa. Perpustakaan sewa adalah perpustakaan yang meminjamkan buku
kepada kepada pemakainya dengan memungut uang sewa. Pada saat itu tejadi
persaingan antara Volksbibliotheek dengan Huurbibliotheek. Sungguhpun demikian
dalam prakteknya terdapat perbedaan bahan bacaan yang disediakan.
Volksbibliotheek lebih banyak menyediakan bahan bacaan populer ilmiah, maka
perpustakaan Huurbibliotheek lebih banyak menyediakan bahan bacaan berupa roman
dalam bahasa Belanda, Inggris, Perancis, buku remaja serta bacaan gadis remaja.
Disamping penyewaan buku ter-dapat penyewaan naskah, misalnya penulis Muhammad
Bakir pada tahun 1897 mengelola sebuah perpustakaan sewaan di Pecenongan,
Jakarta. Jenis sewa Naskah juga dijumpai di Palembang dan Banjarmasin. Naskah
disewakan pada umumnya dengan biaya tertentu dengan disertai permohonan kepada
pembacanya supaya menangani naskah dengan baik.
Disamping
perpustakaan yang didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda, sebenarnya tercatat
juga perpustakaan yang didirikan oleh orang Indonesia. Pihak Keraton
Mangkunegoro mendirikan perpustakaan keraton sedangkan keraton Yogyakarta
mendirikan Radyo Pustoko. Sebagian besar koleksinya adalah naskah kuno. Koleksi
perpustakaan ini tidak dipinjamkan, namun boleh dibaca di tempat. Pada masa
penjajahan Jepang hampir tidak ada perkembangan perpustakaan yang berarti.
Jepang hanya mengamankan beberapa gedung penting diantaranya Bataviaasch
Genootschap van Kunten Weetenschappen.
Selama pendudukan Jepang openbare leeszalen
ditutup. Volkbibliotheek dijarah oleh rakyat dan lenyap dari permukaan bumi.
Karena pengamanan yang kuat pada gedung Bataviaasch Genootschap van Kunten
Weetenschappen maka koleksi perpustakaan ini dapat dipertahankan, dan merupakan
cikal bakal dari Perpustakaan Nasional. Perkembangan pasca kemerdekaan mungkin
dapat dimulai dari tahun 1950an yang ditandai dengan berdirinya perpustakaan
baru. Pada tanggal 25 Agustus 1950 berdiri perpustakaan Yayasan Bung Hatta
dengan koleksi yang menitikberatkan kepada pengelolaan ilmu pengetahuan dan
kebudayaan Indonesia.
Tanggal 7 Juni
1952 perpustakaan Stichting voor culturele Samenwerking, suatu badan kerjasama
kebudayaan antara pemerintah RI dengan pemerintah Negeri Belanda, diserahkan
kepada pemerintah RI. Kemudian oleh Pemerintah RI diubah menjadi Perpustakaan
Sejarah Politik dan Sosial Departemen P & K. Dalam rangka usaha melakukan
pemberantasan buta huruf di seluruh pelosok tanah air, telah didirikan
Perpustakaan Rakyat yang bertugas membantu usaha Jawatan Pendidikan Masyarakat
melakukan usaha pemberantasan buta huruf tersebut. Pada periode ini juga lahir
perpustakaan Negara yang berfungsi sebagaiperpustakaan umum dan didirikan di
Ibukota Propinsi. Perpustakaan Negara yang pertama didirikan di Yogyakarta pada
tahun 1949, kemudian disusul Ambon (1952); Bandung (1953); Ujung Pandang
(1954); Padang (1956); Palembang (1957); Jakarta (1958); Palangkaraya,
Singaraja, Mataram, Medan, Pekanbaru dan Surabaya (1959). Setelah itu menyusul
kemudian Perpustakaan Nagara di Banjarmasin (1960); Manado (1961); Kupang dan
Samarinda (1964). Perpustakaan Negara ini dikembangkan secara lintas
instansional oleh tiga instansi yaitu Biro Perpustakaan Departemen P & K
yang membina secara teknis, Perwakilan Departemen P & K yang membina secara
administratif, dan Pemerintah Daerah Tingkat Propinsi yang memberikan fasilitas.
Sejarah
perpustakaan islam
Pada masa
kejayaan Islam, perpustakaan merupakan sarana untuk belajar, hingga ummat Islam
mampu membangun peradaban besar yang bertahan beberapa abad lamanya. Banyak
informasi dan ilmu pengetahuan yang tidak terdokumentasikan dengan baik oleh
umat Islam dilupakan begitu saja. Akibatnya tatanan umat Islam baik aspek
ekonomi, politik, sosial, budaya dan aspek kehidupan yang lain mengalami
stagnasi. Sehingga ahirnya umat Islam hanya menjadi umat pengikut dari bangsa
maju, yang dalam hal ini adalah dunia barat. Padahal kita menyadari bahwa
kemajuan dunia barat dicapai dengan melalui penguasaan ilmu pengetahuan yang di
ambil dari pusat-pusat ilmu pengetahuan musli seperti perpustakan.
Dari paparan
diatas menunjukan betapa pentingnya perpustakaan dalam pengembangan suatu
bangsa. Dalam hal ini banyak ilmu pengetahuan , informasi dan dokumentasi yang
di sediakan perpustakaan memiliki peran yang sangat besar dalam pemberdayaan
umat. Banyak literatur yang mengungkapkan bahwa perpustakaan sebagai tempat
aktivitas belajar, yang kegiatannya hampir sama dengan apa yang di lakukan di
sekolah-sekolah. Fungsi dan peran perpustakaan ini banyak di adopsi oleh
perpustakaan di negara maju seperti Inggris, Australia dan Kanada. Banyak
perpustakaan di ubah menjadi learning center atau resources center. Hal ini
mengidentifikasikan bahwa perpustakaan yang di perankan pada masa kejaaan Islam
sangat penting dan representatif untuk pengembangan dan memajukan masyarakat.
Masa Perintisan Perpustakaan

Menurut
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Perpustakaan adalah
institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan atau karya rekam
secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan,
penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Pada masa Nabi
Muammad SAW dan para sahabatnya, perpustakaan dalam pengertian di atas tidak di
temukan. Tapi cikal bakal atau rintisan perpustakaan sudah ada, yaitu sebagai
berikut:
1. Wahyu
Allah yang pertama kepada Nabi Muhammad SAW ialah perintah kepada umat Islam
untuk membaca (Iqra’).
2. Rasulullah
SAW mengangkat para sahabatnya, antara lain; Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab,
dan Khalid bin Walid sebagai penulis Al Qur’an.
3. Perintah
Rasulullah SAW kepada tawanan perang Badar untuk mengajari anak-anak Muslim
membaca dan menulis.
4. Pada
masa Rasulullah SAW muncul keinginan menulis Al Qur’an dalam bentuk mushaf
pribadi seperti Mushaf Ubay bin Ka’ab, Mushaf Ibnu Mas’ud, Mushaf Ibn Abbas dan
pada ahirnya melahirkan Mushaf Utsmani yang di salin menjadi 4 Mushaf. Tetapi
riwayat lain menebutkan lima salinan di sebarkan ke kota Madinah, Makkah,
Kuffah, Basrah dan Damaskus. Dan Mushaf-mushaf tersebut di jadikan referensi
oleh Umat Islam. Peristiwa diatas mendorong umat Islam gemar menulis dan
membaca dan menulis dan semua itu merpakan semangat di dalam perpustakaan.
Masa Pembentukan dan Pembinaan Perpustakaan
Ada beberapa
hal yang melatar belakangi pembentukan dan pembinaan perpustakaan perpustakaan,
di samping peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa perintisan, antara lain
sebagai berikut:
1.
Setelah
Al Qur’an di kodifikasi dalam bentuk mushaf timbul keinginan masyarakat muslim,
terutama yang hidup jauh dari masa Rasulullah SAW untuk memahami Al Qur’an dan
ajaran-ajaran Islam sesuai dengan yang di pahami dan dilaksanakan oleh
Rasulullah SAW. Muncul keinginan dari sebagian ulama untuk membukukan sabda-sabda
Rasulullah SAW, sekalipun pada awalnya mendapatkan tentangan karena berpegang
kepada Hadits yang melarang penulisan bersumber dari Rasul selain Al Qur’an.
Namun pada masa Umar bin Abdul Aziz (wafat 675 M) beliau dengan otoritasnya
memerintah Muhammad bin Muslim bin Syihab az-Zuhri al-Madani (wafat 695 M)
untuk menghimpun hadits dan menulisnya dalam sebuah buku. Dia beralasan bahwa
Rasulullah melarang menulis hadits karena di khawatirkan akan tercampur dengan
Al Qur’an. Padahal pada waktu ia memerintahkan menulis hadits tidak ada
kehawatiran tercampur dengan Al Qur’an, karena Al Qur’an sudh di kodifikasikan
dalam bentuk mushaf. Kemudian hadits-hadits tersebut ditulis dan disebarluaskan
ke penjuru negeri untuk di jadikan referensi.

2.
Kepeloporan
Ibn Syihab az-Zuhri di ikuti oleh ulama-ulma lainnya. Pada masa itu hadits
menjadi primadona. Banyak ahli hadits yang rela melakukan perjalanan jauh dan
melelahkan hanya demi mendapatkan sebuah hadits dan kemudian dihimpun dalam
koleksi mereka masing-masing.ahirnya dikenal dengan koleksi Sahih Bukhari,
Sahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan at-Trmudzi, dan koleksi-koleksi linnya.
Setiap koleksi bisa terdiri dari tiga jilid atau lebih bhkan sampai belasan
jilid, sehingga menambah bahan rujukan Islam.
3.
Gerakan
penerjemahan yang di pelopori oleh Khalifa al-Mansur dari Daulah Abbasiyah
telah membantu dalam penambahan jumlah koleksi pustaka pd waktu itu. Dia
memperkejakan orang-orang Persia yang baru masuk Islam untuk menterjemahkan
karya-karya berbahasa Persia dalam bidang astrolgi, ketatanegaraan dan politik,
moral, seperti Kalila wa Dimma dan Sindhid di terjemahkankedalam bahasan Arab.
Selain itu di terjemahkan dari bahasa Yunani seperti Logika karya Aristoteles,
lmagest karya Ptolemy, Arithmetic karya Nicomashus, Geometri kary Euclid.
Gerakan penterjemahan dilanjutkan khalifah berikutnya, yaitu al-Al Makmun. Ia
membayar mahal hasil penterjemahan.
Bahan pustaka
yang cukup banyak tadi berupa mushaf Al Qur’an maun hadits dan karya-karya
terjemahan mendorong penguasa pada waktu itu ntuk mendirikan perpustakaan.
Perpustakaan yang resmi berdiri pertama kali ntuk publik adalah Baitul Hikmah.
Perpustakaan itu bukan saja berfungsi sebagai tempat penyumpanan buku, tetapi
sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Pada masa Harun al-Rasyid intitusi
perpustkaan bernama Khizanah al Hikmah berfungsi sebagai perpustakaan dan pusat
penelitian.
Sejak tahun
815M, al-Makmun mengembangkan Lembga itu dengan mengubah namanya menjadi Bait
al-Hikmah. Pada masa itu Bait al-Hikmh di gunakan secara lebih maju, yaitu
sebagai tempat penyimpanan buku-buku kuno yang di dapat dari Persia, Bizantium,
Etiopia, dan India. Direktur perpustakaanya adalah seorang nasionalis persia
dan ahli Pahlevi, yaitu Sahl ibn Harun. Pada masa al-Makmun, Bait al-Hikmah
ditingkatkan lagi fungsinya menjadi pusat kegiatan studi, riset astronomi dan
matematika. Untuk mengetahui perpustakaan pada waktu itu kita tinjau sekilas
berdasarkan jenisnya, yaitu sebagai berikut:
Perpustakaan Umum
Perpustakaan
jenis ini biasanya didirikan di masjid–masjid agar orang–orang yang belajar di
masjid dan pengunjung dapat membaca buku–buku yang mereka perlukan. Kadang –
kadang perpustakaan didirikan di masjid dengan maksud agar lembaga pendidikan
dapat menampung pelajar–pelajar yang dating untuk mencari ilmu pengetahuan.
Perpustakaan
umum sangat banyak jumlahnya, barang kali untuk menemukan suatu masjid atau
sekolah–sekolah yang tidak memiliki perpustakaan dengan koleksinya yang siap di
tela’ah dan muraja’ah bagi pelajar dan peneliti yang sedang mengadakan
penelitian. Yang termasuk perpustakaan umum adalah sebagai berikut :
a.
Baitul
Hikmah
b.
Al-Haidariyah
di An-Najaf
c.
Ibnu Sawwar di Basrah
d.
Sabur
e.
Darul
Hikamah di Kairo
f.
Perpustakaan-perpustakaan
sekolah
Perpustakaan Semi Umum
Perpustakaan
semi umum didirikan oleh para khalifah dan raja–raja untuk mendekatn diri
kepada ilmu pengetahuan. Adupan perpustakaan semi umum antara lain:
a.
Perpustakaan
An-Nashir Li Dinillah
b.
Perpustakaan
Al-Muzta’sim Billah
c.
Perpustakaan
Khalifah–Khalifah Fathimiyah
Perpustakaan Pribadi
Perpustakaan
ini didirikan oleh ulama–ulama dan para sastrawan, khusus untuk kepentingan
mereka sendiri. Perpustakaan ini sangat banyak karena hampir semua ulama dan
sastrawan memiliki perpustakaan untuk menjadi sumber dan referensi bagi
pembahsan dan penelitian mereka. Perpustakaan jenis ini antara lain:
a.
Perpustakaan
Al-Fathu Ibnu Haqam
b.
Perpustakaan
hunain Ibnu Ishaq
c.
Perpustakaan
Ibnul Harsyab
d.
Perpustakaan
Al Muwaffaq Ibnul Mathran
e.
Perpustakaan
Al-Mubasysir Ibnu Fatik
f.
Perpustakaan
Jamaluddin Al Qifthi
Peranan Perpustakaan pada Peradaban Islam
Perpustakaan
pada awal kejayaan Islam menunukkan perannya dalam mennjang pendidikan umat.
Perpustakaan yang di kelola oleh orang-orang Islam tidak hanya memperhtikan
ilmu-ilmu yang berkaitan dengan keagamaan, seperti msalah ibadah dan teologi,
tapi juga mengelola disiplin ilmu yang lain seperti kedokteran, sosial, politik
dan sebagainya. Berbagai peran perpustakaan pada masa peradaban Islam yaitu:

Pusat Belajar (Learning Center)
Setelah masa
Khulafaur-Rasyidin, peradaban Islam berkembang dengan pesat. Perkembngan itu
antara lain adalah proses pendidikan tertama pada masa Umaiyah dan Abbasiyah.
Pada masa ini gairah dan apresiasi umat pada perpustakaan sangat tinggi. Mereka
membangun perpustakaan, baik umum, khusus maupun perpustakaan pribadi. Sehingga
tidak heran banyak masjid dan sekolah memiliki perpustakaan. Mereka menganggap
bahwa perpustakaan sama pentingnya dalam membangun ilmu pengetahuan. Bahkan
fungsi perpustakaan kadang-kadang tidak dapat di bedakan dengan fungsi lembaga
pendidikan karena sama-sma memberikan smbangan dalam pengajaran kepada umat.
Pusat Penelitian
Sesungguhnya
peran penelitian yang dilakukan oleh perpustakaan pada masa awal Islam sangat
signifikan. Hal ini dapat dilihat dari berbagai peristiwa, misalnya utusan
khalifah-khalifah atau raja-raja untuk membahas suatu bidang ilmu tertentu di
perpustakaan-perpustakaan yang terkenal memiliki koleksi yang cukup besar dan
lengkap seperti Baitul Hikmah dan Darul Hikmah. Disamping itu, para peneliti
dan cendekiawan yang mencoba mengembangkan suatu ilmu yang berkaitan dengan
keahliannya. Banyak di antara mereka yang melakukan perjalanan dari suatu
perpustakaan ke perpustakaan lain untuk merumuskan dan melakukan
penemuan-penemuan baru. Tentu saja aktivitas semacam ini tidak pernah terhenti
sampai sekarang dan begitu pula pada masa datang selama perpustakaan
menjalankan fungsinya sebagai sumber informasi.
Pusat Penerjemahan
Suatu hal yang
amat menarik adalah di mana perpustakaan pada masa itu menjadi jembatan dari
kebudayaan. Misalnya, kebudayaan dan ilmu pengetahuan Yunani Kuno diterjemahkan
ke dalam bahasa Arab untuk dipelajari oleh masyarakat. Dalam konteks ini
perpustakaan menjadi sponsor atas semua kegiatan tersebut. Aktivitas semacam
ini telah mendapatkan respon positif sehingga para penerjemah memperoleh status
yang baik dalam masyarakat. Situasi ini mulai pada saat didirikannya perpustakaan
yang pertama dalam dunia Islam. Menurut Kurd Ali, orang yang pertama kali
menekuni bidang ini ialah Chalid Ibnu Jazid (meninggal tahun 656 M). Di lain
sumber dikatakan bahwa Ibnu Jazid telah mencurahkan perhatiannya terhadap buku
lama, terutama dalam ilmu kimia, kedokteran dan ilmu bintang.
Pusat Penyalinan
Salah satu hal
yang dapat dibanggakan oleh kaum Muslimin yaitu sejak dari abad pertengahan
telah dirasakan pentingnya bagian percetakan dan penerbitan dalam suatu
perpustakaan. Oleh karena itu alat-alat percetakan sebagaimana yang kita lihat
di abad modern ini belum ada di masa itu, maka untuk mengatasi hal ini mereka
adakan seleksi penyalinan pada tiap-tiap perpustakaan. Penyalinan buku itu
diselenggarakan oleh penyalin-penyalin yang terkenal kerapihan kerja dan
tulisannya.
Masa Kemunduran dan Kehancuran Perpustakaan
Kemunduran dan
kehancuran perpustakaan di era peradaban Islam mengikuti kejatuhan
wilayah-wilayah muslim setelah pertarungan fisik melawan musuh-musuhnya.
Misalnya perpustakaan di Tripoli di hancurkan oleh tentara perang Salib atas
komando seorang rahib yang tak senang saat melihat banyak Al Qur’an di
perpustakaan tersebut. Di samping itu perpustakaan terkenal lainya, seperti
milik Sultan Nuh Ibn Mansur yang dibakar setelah filosuf besarnya menyelesaikan
penelitiannya di tempat itu. Kenyataan itu menimbulkan tuduhan bahwa
cendikiawan sendiri yang membakar perpustakaan setelah menguasai isi keilmuan
yang terkandung dalam perpustakaan tersebut. Peristiwa lainya terjadi pada
tahun 1258M ketika sekelompok bangsa Mongol dan Tartar menjarah kota Baghdad
dan membakar perpustakaanya.
Demikianlah
umat Islam berkembang dengan pesat pada awalnya seiring dengan perkembangan
perpustakaan dan mundurnya umat Islam bersamaan dengan mundurnya perpustakaan.
Dengan demikian cara untuk memajukan peradaban umat Islam adalah salah satunya
dengan memajukan perpustakaan yaitu dengan membina perpustakaan dan
meningkatkan kesadaran umat Islam akan pentingnya ilmu pengetahuan yang
terkandung di dalamnya.